Ayu Shafiyah
It's me...!!!
June 2012 S M T W T F S « Mar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Find me
Bidadari bidadari Surga (2)
“Wahai, wanita-wanita yang hingga usia tiga puluh, empat puluh, atau lebih dari itu, tapi belum juga
Posted in Book Lover
Leave a comment
Saga no Gabai Bachan
Buku ini direkomendasikan oleh suami yang katanya direkomendasikan dalam acara Kick Andy. Saya akui, sampai saat ini buku-buku rekomendasi acara Kick Andy tidak pernah mengecewakan. Selalu meninggalkan jejak istimewa setelah membacanya dan membuat saya merasa menyesal bila tak membuat resensinya sebagai kenang-kenangan.
Buku ini mengajarkan kita tentang arti bahagia yang tidak bisa dinilai hanya dengan uang. Dan makna bahagia, seiring dengan pergantian tahun dan (katanya) kemajuan zaman, mengalami pergeseran makna menjadi lebih bersifat materi.
Adalah Akihiro Tokunaga yang tak lain adalah sang penulis Yoshichi Shimada yang menceritakan kembali pengalaman hidup semasa kecilnya saat tinggal bersama Nenek Osano di Saga sebuah daerah kecil di Pulau Kyushu, Jepang. Nilai-nilai hidup yang diajarkan sang Nenek membuatnya berkesimpulan bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang. Kebahagiaan itu adalah sesuatu yang ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.
Lihat saja bagaimana bahagianya Akihiro kecil saat memiliki krayon pertamanya, yang didapat dari hasil menjual kura-kura yang secara tak sengaja didapatnya saat bermain-main di sungai. Pada saat bukan pelajaran menggambar, krayon 24 warna -yang dianggap mewah oleh teman-teman di sekolahnya yang hanya bisa berpuas hati dengan krayon 12 warna -diletakkan di atas mejanya dengan bangga. Juga pada saat ibunya dari Hiroshima datang mengunjunginya, membayangkan sepulang sekolah ada ibu yang menungguinya di rumah. Buat anak-anak lain itu adalah hal yang lumrah dan biasa, namun bagi Akihiro itu adalah hal yang luar biasa membahagiakan.
Selain belajar tentang kebahagiaan, Akihiro juga diajarkan bahwa tidak selamanya hal yang kita inginkan membuat kita bahagia. Seperti saat Akihiro ingin mengikuti kegiatan Kendo dan Judo yang dianggap keren pada saat itu. Karena kedua kegiatan tersebut memerlukan biaya, maka sang Nenek dengan tegas melarang Akihiro mengikuti kegiatan tersebut. Untuk olahraga, Akihiro disuruh oleh neneknya untuk berlari, karena tidak membutuhkan peralatan dan tempat berlarinya juga gratis. Dan dengan latihan berlarinya ini, di masa SMP nya Akihiro terpilih menjadi pemain tetap tim Baseball pada tahun pertama dan menjadi kapten tim yang diidolakan banyak perempuan. Dari kemampuan berlari juga, di akhir cerita Akihiro berhasil memperoleh beasiswa di SMA Kouryou di Hiroshima.
Lihatlah, bahwa tak semua yang kita sukai membuat kita berhasil dan bahagia. Semua kembali bagaimana cara kita menyikapi apapun yang terjadi di kehidupan ini. Kita hanya perlu menikmatinya, menyantap dengan bersyukur makanan apa pun yang ada di depan mata, lalu hidup dengan tawa setiap harinya. (epilog)
Ada bagian yang membuat saya terharu dalam lembaran-lembaran buku kecil ini, dan juga sarat makna tentunya. Yaitu saat diadakan festival olahraga di sekolah, dimana pada hari itu setiap murid membawa sendiri bekal makanannya untuk kemudian makan bersama keluarga yang datang menyemangati anak-anaknya. Tidak demikian halnya dengan Akihiro. Karena kesibukan sang Ibu di Hiroshima, setiap festival olahraga ibunya tidak bisa datang. Demikian juga dengan Nenek Osano, yang di hari pertamanya sekolah di Saga, membuat Akihiro diejek karena Nenek Osano dianggap ibunya yang tua sekali. Mungkin untuk menjaga perasaan Akihiro, Nenek Osano sengaja tidak hadir.
Dan cerita tentang bekal makanan, tidak ada makanan istimewa yang bisa dibawakan nenek untuk Akihiro. Hanya dengan acar buah plum dan jahe. Setiap waktu makan tiba di hari Festival Olahraga, Akihiro masuk ke kelas dan makan sendirian di sana dengan air mata menggenang di pipinya. Dan setiap kali juga di hari yang sama, selalu saja ada guru yang sedang sakit perut dan menukarkan bekal makanannya dengan Akihiro. Baru setelah di tahun ke enam sekolah, Akihiro mengerti bahwa itulah yang namanya kebaikan sejati, kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang yang menerima kebaikan. Guru-guru di sekolah tahu bagaimana kondisi Akihiro dan Nenek Osano, dan bekal apa yang dibawakan sang Nenek untuk Akihiro. Juga tentang ibu Akihiro yang selalu tak bisa datang melihat aksinya dalam festival olahraga, membuat hati para guru menjadi iba melihatnya.
Dan di Festival Olahraga terakhir yang diikuti Akihiro di Saga, ada sebuah kebahagiaan tersendiri baginya. Ibunya yang selama ini tidak dapat hadir, berjanji untuk datang memberinya semangat pada lomba lari sejauh kurang lebih 7 kilometer ke Saga. Dalam surat ibunya untuk Nenek Osano pun membuatnya yakin bahwa ibunya pasti datang dalam festival tersebut. Sehari sebelum acara festival, seperti yang dijanjikan, ibunya belum juga datang ke Saga. Sampai aba-aba mulai untuk berlari dibunyikan pun, ibunya belum juga tampak di antara penonton. Rasa berdebar-debar akan kepastian kedatangan ibunya semakin menjadi, manakala dia harus melewati depan rumahnya dalam rute lari tersebut. Semakin dekat, semakin dia berdebar-debar, apakah ibunya jadi datang ke Saga atau tidak. Akihiro tak mau kehilangan semangat meski ibunya tidak jadi datang, tapi dia juga tak bisa menampik harapan ibunya hadir dan memberikan teriakan semangat untuknya. Di bagian ini, saya pun ikut berdebar-debar, membayangkan betapa kecewanya Akihiro kalau saja ibunya ternyata tidak juga hadir dan akhirnya saya ikut berlega hati saat melihat deretan kata-kata teriakan sang ibu memberi semangat pada Akihiro dari depan rumahnya. Lengkaplah sudah hari Akihiro di Festival Olahraga terakhir itu. Selain mendapat juara, dia juga bisa membuat ibunya bangga. Ah, betapa keberadaan ibu bagi Akihiro adalah nilai kebahagiaan yang tak terkira harganya.
Buat saya, buku ini terlalu singkat untuk menggambarkan tentang kebahagiaan. Namun setelah saya berpikir kembali, memang tidak perlu penjelasan panjang lebar bagaimana menjadi bahagia. Karena bahagia itu sederhana. Dan untuk mereka yang mau berpikir sederhana, tidak perlu bersusah payah bekerja siang malam banting tulang untuk mendapatkan bahagia atau melakukan segala demi meraih segala sesuatu yang diinginkan, cukuplah dengan mensyukuri apa yang kita punya, dan menjalani hidup sewajarnya saja.
ps. Katanya, filmnya sudah ada.. Apakah sudah sampai di Indonesia? 
-Ayu Shafiyah | 24.01.12-
Posted in Book Lover
1 Comment
Pernikahan itu Sensitif
“Pernikahan itu sangat sensitif,” kata Ummul Mukminin Aisyah r.a., “dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya.”
Pernikahan itu sangat sensitif. Seseorang menjadi peka, lebih peka dari sebelumnya. Boleh jadi ia menjadi lebih peka terhadap kebajikan-kebajikan dan akhlak mulia. Boleh jadi ia justru menjadi peka terhadap kekurangan-kekurangan orang lain sekalipun sedikit. Sementara kebaikannya yang banyak tidak nampak di mata.
Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau sebuah pernikahan mengalami keretakan dan kegersangan, yang merasakan panas serta gerahnya tidak hanya suami dan istri. Sanak kerabat pun bisa ikut merasakan. Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masing-masing pribadi berusaha untuk saling menyelami dan menguatkan jalinan perasaan (al-’athifah) untuk kebaikan bersama, guncangan-guncangan besar pun insya-Allah, tidak menggoyahkan. Apalagi guncangan kecil, baik dari tetangga maupun keluarga.
Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masing-masing berusaha untuk mendapatkan kemuliaan~bukan dimuliakan~ insyaAllah mereka akan meraih rumahtangga yang barakah, sakinah (menentramkan jiwa) mawaddah wa rahmah (diliputi oleh rasa cinta dan kasih sayang).
Pernikahan itu sangat sensitif. Segala jalan yang menyebabkan munculnya keraguan dan kebimbangan mengenai akhlak maupun fisiknya, perlu dijauhkan. Setiap pintu yang bisa membukakan penyesalan, perlu ditutup. Sedang pintu yang mendatangkan kemantapan dan terhapusnya jalan penyesalan, sebaiknya dibuka lebar. Sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan merupakan jalan besar menuju keluarga yang barakah, sakinah mawaddah wa rahmah.
Sedang mempersulit proses pernikahan dapat membuka pintu-pintu madharat. Mempersulit proses pernikahan melapangkan jalan fitnah dan mafsadah (kerusakan) masyarakat. Tetapi yang ingin saya bahas di sini adalah madharat bagi suami istri yang akan menikah.
Rasulullah bersabda, “Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya.”
~Mencapai Pernikahan Barakah – Muhammad Fauzil Adhim | 18.09.2011~
Posted in Spiritual
Leave a comment
Sudahlah
Tak ada kereta berbalik ke stasiun
dengan alasan masih ada penumpang yang tertinggal
Pun tak ada penumpang yang berlari mengejar sejauh kereta melaju
Yang terdengar, penumpang itu berkata,
sudahlah, aku akan menunggu kereta berikutnya…
-Ayu Shafiyah | 30.07.2011-
Posted in My Mind
Leave a comment
Ramadhan 1432 H
Bukan tahun baru ataupun ulang tahun yang aku jadikan milestone hidup, melainkan Ramadhan. Di bulan berkah itu, selalu ku jadikan batu loncatan untuk menjadi insan yang lebih baik dari sebelumnya. Juga ku jadikan patokan, tentang target cita-cita. Banyak harapan di dalamnya.
Dan Ramadhan kali inipun, tak bosan aku menaruh harapan, akan cita-cita yang tak kunjung tercapai di tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena kelalaian diri dari mengingat-Mu, astghfirullah.. Atau memang ada rencana lain yang Kau siapkan untukku.
Apapun itu, aku menyatakan siap menyambut Tamu Agung itu, tentunya dengan harapan-harapan yang sesungguhnya hanyalah untuk meraih berkah dan keridhaan-Mu.
Bismillahirrahmaanirrahiim… Ramadhan, aku akan mengisi hari-harimu hanya untuk-Nya.
-Ayu Shafiyah|29.07.2011-
Posted in My Mind
Leave a comment
Anggur Cinta
Pantaskah kupinta kemudahan diri-Mu
Ketika sedikit kesulitan menjadikanku beriman
Ketika sedikit kesulitan membuat gulungan-gulungan syukur pada-Mu
Ketika sedikit kesulitan akan meninggikan tingkat kehidupanku
Masihkah ingin kumohon kelancaran dari-Mu
Jika kelancaran itu tak menambah cinta-Mu padaku
Jika kelancaran itu membuat takabur hidupku
Jika kelancaran tak meninggikan maqom ma’rifatku
Ya, kiranya ku masih sanggup meminta
Kan kupinta ridho-Mu
Kan kupinta penerimaan-Mu
Kan kupinta suguhan anggur cinta-Mu
Atas pertamuanku kali ini
Ya… Anggur cintamu.. anggur cintamu itu yang kupinta
(Ratih Sanggarwati)
-Ayu Shafiyah | 14.07.2011-
Posted in Book Lover
Leave a comment
Abu Bakar, sepeninggal Rasulullah saw.
Ini adalah urusan yang jika diserahkan kepada langit dan bumi, niscaya keduanya tak akan sanggup mengembannya. Lalu, bagaimana manusia bertikai untuk memperebutkannya? Menduduki kursi ini lebih kesepian dibanding bocah jelata yang tersesat di padang pasir pada malam gulita. Tentang ini, setiap manusia menghendaki keadilannya, sedangkan Yang Mahakuasa senantiasa mencatat seberapa amanah dia menjalankannya.
Abu Bakar banyak menangis ketika dia sendirian dalam perenungan. Oh, seandainya saja bisa menghindari urusan ini. Seandainya Umar atau Abu Ubaidah saja yang memegangnya dan Abu Bakar duduk sebagai menteri semata.
Inikah kedudukan yang membuat benak orang selalu memikirkan jabatan, kekuasaan, dan kewibawaan? Alangkah berat berdiri sebagai pemimpin sementara bangunan umat mulai compang-camping.
Gelombang murtad menggejala di berbagai kelompok manusia. Nabi-nabi palsu bermunculan seperti jamur pada musim jatuhnya hujan. Kekuasaan Islam hanya bersisa di Thaif, Makkah dan Madinah saja.
Bahkan, di Madinah dan sekitarnya, manusia-manusia hipokrit selalu siap menggerogoti kekuatan umat dari dalam. Mereka mencibir kemampuan Abu Bakar dan menggosok-gosok perbedaan pendapat seumpama api dalam sekam. Jumlah mukmin kian menyusut, sementara pembenci Islam kian menyamudra jumlahnya.
Jadi, siapakah yang hendak menepuk dada dan menganggap nikmat apa yang kini dihadapi Khalifah yang berdiam di Madinah?
Sepeninggal sang Nabi, seolah bumiArab kembali ke masa lalu yang penuh hasad dan dengki. Kehidupan terasa sesak tak beraturan. Seolah gempa melanda semaunya. Sesama bangsa Arab kembali mengasah senjata. Kini, mata pedang mereka membidik Madinah sebagai sasaran.
Jadi, siapakah dia yang jika diberi pilihan akan sanggup mengemban tugas kekhalifahan?
Di tengah hati yang sedang gulana itulah Umar menghadap Abu Bakar. Kali ini dia tidak datang sebagai seorang yang teramat dekat dengan Abu Bakar. Dia mendatangi Abu Bakar sebagai seorang anggota pasukan yang diutus oleh sang panglima : Usamah bin Zaid.
Seorang yang telah melewati banyak peristiwa, memenangkan banyak peperangan, berjalan dengan tenang sebagai seorang utusan dari seorang panglima yang usianya baru menghabiskan setengah usia Umar.
“Usamah memerintahku untuk menghadap kepadamu, wahai, Khalifah.” Umar sanggup merasakan dari mana datangnya kegundahan pada wajah Abu Bakar. Keduanya begitu saling mengerti dalam banyak hal. “Usamah berpikir bahwa Madinah perlu diijaga dari berbagai ancaman serangan. Pasukan yang dia pimpin cukup banyak sedangkan di Madinah, tidak ada jaminan keamanan bagi Khalifah dan seluruh penduduk.”
Pasukan Usamah tak sebanyak itu kenyataannya. Ketika kabar wafatnya Nabi sampai ke mereka, jumlah anggota pasukan segera berkurang. Mereka kembali ke Madinah sembari menangis dengan air mata yang tak pernah sederas itu sebelumnya. Masih ada yang tersisa. Itu pun mereka yang teguh hatinya. Sekarang, Usamah meminta Umar untuk menghadap Khalifah Abu Bakar agar mau menarik sebagian pasukan. Melindungi sang Khalifah dan Kota Madinah.
Berapa orang yang hendak disisakan Umasah untuk melanjutkan ke Utara?
Abu Bakar tak segera menjawab. Apa yang dibawa Umar hari itu tak beda halnya dengan omongan beberapa orang yang menghadapnya belakangan. Mereka yang ingin menggoyahkan keteguhan Abu Bakar.
“Pasukan Usamah adalah kaum Muslim yang jumlahnya cukup besar. Seperti yang engkau lihat, orang Arab memberontak kepadamu. Tidak layak engkau memisahkan antara jemaah kaum Muslim.”
Ketika orang mengatakan begitu, Abu Bakar menegaskan suaranya, mengencangkan keteguhannya. “Demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Jika engkau mengira akan ada binatang buas yang akan menerkamku, aku tetap akan menjalankan pasukan Usamah seperti diperintahkan oleh Rasulullah. Jika di kampong ini tak bersisa orang selain diriku, aku akan tetap memerintahkan pasukan Usamah meninggalkan Madinah.”
Tak ada kompromi dalam hal ini. Abu Bakar tidak ingin dikurangi meski sedikit apa-apa yang sudah ditentukan oleh sang Nabi. Namun, apa kata angin hari itu ketika Umar, sahabat yang sangat dia mengerti, datang dengan kata-kata yang hamper serupa?
“Orang Anshar,” Umar menyetujui apa yang dikatakan Usamah, tetapi dia sangat paham orang seperti apa sang Khalifah. “Orang Anshar dalam pasukan Usamah menitip pesan kepadaku, jika Khalifah tetap ingin mereka berangkat ke Utara, mereka ingin dipimpin oleh orang yang lebih tua dibandingkan Usamah.”
“Umar,” Abu Bakar menyorotkan matanya sampai ke titik pandangan Umar. “Aku tidak akan meepas kalung yang sudah dipasangkan oleh Rasulullah saw. Meskipun burung-burung mematukku dan binatang-binatang buas di sekitar Madinah memakanku, meskipun anjing-anjing menyerang istri-istri Rasulullah, aku tetap akan mengirim pasukan Usamah. Aku perintahkan pasuka untuk menjaga sekitar Madinah. Aku tidak akan pernah menolak perintah Rasulullah.”
“Umar tak menyerah. Dia yakin, Khalifah mesti diluruskan dalam hal ini. “Bagaimana mungkin engkau tetap mengirim pasukan Usamah, sedangkan bangsa Arab mulai menentangmu?”
Abu Bakar tampak gemetaran. Bukan oleh gentar melainkan oleh murka yang tidak biasa datang kepadanya. “Wahai Umar, meski anjing buas memakan para wanita Madinah, aku tidak akan menarik pasukan yang oleh Rasulullah sudah diperintahkan untuk berangkat.”
Tidak akan berhasil. Umar tahu batas usahanya hanya sampai di situ. Namun, ide orang-orang Anshar itu tampaknya lebih masuk akal. “Bagaimana dengan usulan orang-orang Anshar tadi?” sedikit pengulangan. Namun, Umar memang sedang melakukan pemastian. “Mereka memerintahkanku untuk menyampaikan usulan mereka supaya engkau memilih pemimpin yang lebih tua dibanding Usamah.”
Abu Bakar tak menggunakan kata-kata semata. Dia bangkit dari duduknya. Menghampiri Umar lalu menarik jenggotnya. “Apa yang terjad pada dirimu, wahai Ibnu Al-Khaththab? Usamah diangkat oleh Rasulullah sedangkan engkau memintaku untuk menurunkannya?” Abu Bakar menaikkan nada suaranya. “Bagaimana mungkin aku mengangkat orang sedangkan Rasulullah sudah mengangkatnya?”
Umar terdiam. Abu Bakar yang lembut hati dan penuh kasih saying, hari ini menampakkan ketegasan yang bahkan menenggelamkan sikap kasar Umar. Tanpa bicara lagi, Umar mengangguk lantas meninggalkan Masjid Nabi. Dia buru-buru bergabung dengan anggota pasukan Usamah yang menyertainya ke Madinah.
“Apa kata Khalifah, wahai Umar?”
Wajah Umar tampak merah gelap oleh rasakesal yang tak tahu dia arahkan kepada siapa. “Berangkatlah kalian. Karena kalian aku mendapatkan marah besar dari Khalifah.”
-Bab 47. Dunia yang Ditinggalkan~Para Pengeja Hujan-
Posted in Book Lover
Leave a comment






